Review Anime - Usagi Drop (2011)



Gue kira, anime ini bakal membosankan atau minimal ceritanya ketebak. Tapi ternyata nggak. Anime ini mampu mengemas sempurna dengan konflik konflik sederhana yang terjadi di sekitar kita. Biasanya gue nonton anime lama banget namatinnya, bisa 3 hari sampai seminggu. Tapi ini 1 hari pun bisa gue selesaikan. Dari habis magrib sampai jam 11.

Intinya anime ini layak untuk kalian tonton, no ecchi atau adegan tak senonoh, no bikini, no kisseu, sehingga bener-bener sesuai untuk semua umur. Denger denger udah ada live action nya ya ? Wah jadi mau nonton nih :o

Dan kayaknya masih ada kelanjutannya nih di season berikutnya. Soalnya kisah asmaranya Daikichi masih ngegantung gitu deh.

Rate
5/5

Underworld Awakening (2012)


Meskipun gue ga ngikutin seri sebelumnya, tapi gue tidak merasa bingung dengan alur cerita yang disajikan. Ya sempet bingung bingung dikit sih, tapi pada akhirnya bisa ngikutin. Dan ceritanya ga ketebak. Gue kira akan ada vampir dan lycans yang membosankan, namun film ini berhasil dengan menarik. Dari roman-romannya sih mau ada sekuel berikutnya, atau jangan jangan sekuel nya udah ada ? *tepok jidat*

Intinya film ini gue rekomendasikan untuk kalian, bagi kalian yang ingin menonton film untuk menghilangkan rasa jenuh kalian.

Rate 4,5/5

Transformers Age of Extinction (2014)




Untuk sebuah film, menurut gue durasi 2 jam 45 menit bukanlah durasi yang sebentar. Tapi untungnya film ini berhasil membuat durasi yang lama itu menjadi sebuah film yang tidak membosankan. Dari awal sampe akhir kita bener bener dibuai dengan efek yang wah. Overall film ini keren banget ! Recommended buat ditonton !

Rate 5/5

Review Anime - Toradora



Alasan gue nonton ini anime adalah gara gara tindakan kriminal gue, dimana gue merampok habis koleksi anime temen gue sampe harddisk gue merah. Oke, fokus ke review. Alur cerita anime yang berjumlah 25 episode ini sangat mudah ditebak. Bahkan dari episode 1 gue sudah bisa memprediksikan endingnya dengan sangat mudah.

Feel animenya baru terasa di 15 episode keatas. Untuk 15 episode kebawah, menurut gue sangat membosankan. Untungnya dibeberapa episode, anime ini bisa mengemas beberapa cerita yang sudah ketebak itu dengan baik. Jadi lumayan lah, ga jelek jelek amat.

Untuk ending, hmmn lumayan lah. Tadinya mau kasih review lagi, cuma takut udah keburu spoiler duluan deh endingnya kaya gimana. Jadi gue putuskan untuk tidak jadi menambahkan review (oke gue php). 

Untungnya ada beberapa quotes yang bisa kita ambil dari nonton anime ini.

Quotes
Ada saatnya dimana kita harus menjalani sesuatu yang tidak kita inginkan.
Ku kira, dengan melarikan diri dari rumah aku akan menjadi dewasa. Ternyata tidak.
Tidak semua orang tua bersikap seburuk yang kau katakan.
Bagaimana bisa kau tidak memikirkan masa depanmu sendiri ?
Banyak pihak yang menyuruhku untuk aborsi saja, tetapi aku tetap bertahan.
Saat kau tersandung ketika berlari, hidungmu akan berdarah. Tetapi saat kau tersandung dalam kehidupan, hatimu lah yang berdarah.

Overall anime ini biasa aja, flat, nothing special. Yang mau nonton silahkan, gue ga larang. Tapi bagi kalian yang menginginkan tontonan anime dengan alur cerita yang fresh, gue tidak menyarankan anime ini.

4/10

 

The Innkeepers (2011)



Sinopsis
Sebentar lagi The Yankee Pedlar Inn akan segera ditutup. Setelah beroperasi lebih dari satu abad, penginapan yang konon berhantu ini akhirnya memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Meski sudah memasuki hari-hari terakhirnya namun misteri yang meliputi The Yankee Pedlar Inn sepertinya tetap tak mau pergi. Beberapa tamu masih berdatangan sementara kejadian-kejadian aneh masih terus berlanjut.

Sebenarnya para karyawan The Yankee Pedlar Inn sudah banyak yang tak bertugas lagi. Dua yang tersisa adalah Claire (Sara Paxton) dan Luke (Pat Healy). Dua karyawan ini bertekad ingin membongkar misteri yang meliputi The Yankee Pedlar Inn selama ini. Claire dan Luke ingin membuktikan apakah benar penginapan tempat mereka bekerja ini memang berhantu seperti yang selama ini dipercaya orang-orang.
Beberapa tamu aneh mulai berdatangan.

 Di saat yang sama, Claire dan Luke juga mulai merasakan keganjilan yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Pelan namun pasti keanehan ini makin menjadi-jadi dan bukan tak mungkin pula The Yankee Pedlar Inn bakal jadi tempat tinggal Claire dan Luke selamanya.


Review
Entah kenapa akhir-akhir ini gue merasa kalau Amerika lagi demen-demennya bikin film horor. Mungkin gara-gara kesuksesan film "Paranormal Activity" sama "Insidious" kali ya. Tapi beruntunglah gue suka dengan ceritanya yang menurut gue termasuk cukup unik. Tentang hantu di hotel.

Selain itu, sound effect yang mendramatisir dan pengambilan gambar yang 'wah' membuat film horor ini menjadi film horor yang artistik namun seram. Ya meski setan yang muncul kata gue sih ga serem-serem amat.

Namun, yang bikin gue suka dengan film ini adalah film ini mampu menghasilkan sebuah film yang berkarakter dengan jumlah tokoh yang sedikit alias itu itu aja.

Tapi sempet juga sih gue ngerasa bosen pas nonton film ini. Gimana nggak, gue merasa dipermainkan oleh film ini. Dimana setannya selalu gak muncul. 


Dengan sekedar melihat posternya, gue kirain film ini bergenre horror fantasy. Eh taunya full horor. Ternyata gue ketipu terhadap poster sodara-sodara ! Ya meski harus gue akui, kalau poster film ini punya daya tarik sendiri.

At least film ini cukup layak ditonton oleh kalian. Tapi, bagi kalian yang ingin mendapat sajian 'wah' dari sebuah film horor, maka film ini kurang gue rekomendasikan.

Review : Real Steel (2011)


Sinopsis
Dunia sudah berubah. Kemajuan teknologi memang memudahkan pekerjaan manusia tapi di sisi lain, kemajuan teknologi juga yang membuat banyak orang harus kehilangan pekerjaan. Charlie Kenton (Hugh Jackman) adalah satu dari sekian banyak orang yang harus rela pekerjaannya diambil alih teknologi canggih. Charlie dipaksa pensiun dari profesinya sebagai petinju karena olahraga penuh kekerasan ini pun sudah diambil alih robot.

Mengadu manusia di atas ring sudah bukan zamannya lagi. Olahraga ini sekarang dikuasai para robot yang berusaha saling menghancurkan demi kepuasan penonton. Charlie tak bisa mengelak dan buruknya lagi, Charlie tak tahu harus berbuat apa karena selama ini bertinju adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Charlie memang bukan juara dunia. Ia gagal meraih gelar terhormat itu namun semangatnya tak pernah luntur. Sayang kondisi tak lagi berpihak pada Charlie.

Karena tak mungkin mencari pekerjaan lain, satu-satunya cara adalah tetap bertahan di dunia tinju tanpa harus turun ke dalam ring. Charlie mulai meniti karier menjadi promotor kecil-kecilan. Jadi promotor sepertinya memang sudah takdir Charlie Kenton. Bersama Max (Dakota Goyo), putranya, Charlie kemudian membangun robot dari bekas robot yang sudah kalah bertanding yang biasanya dibuang begitu saja. Dengan modal pengalaman Charlie di atas ring, bisa jadi robot buatan ayah dan anak ini punya peluang mendatangkan uang dalam jumlah besar.

Quotes
Secara angka dialah yang menang, tetapi secara pertandingan akulah yang menang.
Aku hanya ingin bilang, kalau kau akan lebih bahagia hidup dengan mereka.
Setiap manusia memiliki berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya.


Review
Dengan melihat sepintas poster ini dan melihat ada robot yang bertengger disana, gue mengira film robot ini bakalan kaya transformers atau kaya iron man. Tapi ternyata pendapat gue barusan gak 100% salah dan gak 100% bener. Di film ini adegan menegangkan dicampur aduk dengan drama yang lumayan menyentuh.


Sempat gue merasa alur-alur diawal cerita berjalan lambat dan membosankan. Tapi untunglah, saat atom hadir cerita di film ini makin seru hingga gue terhanyut dalam film ini sembari berteriak "atom ! atom !"


Jangan tanya soal kualitas akting, akting dari pemeran cukup mendalami. Apalagi pemain dari jepang itu (gue lupa namanya), dia jago banget masang muka nyebelin kaya gitu. Sampe-sampe gue kesel beneran pas ngeliat muka dia.Cuma dibalik kesempurnaan film ini masih ada satu hal yang sedikit mengganjal buat gue. Dan anehnya film ini malah menyudahinya begitu saja tanpa menjawab pertanyaan yang bertengger di fikiran gue. 

At least, film ini layak ditonton buat kalian yang ingin melihat aksi yang menegangkan sekaligus bernuansa drama. Kombinasi yang pas dan sempurna !

Rate 9/10

The nutcracker in 3d (2010)

Sinopsis
Mary seorang anak sembilan tahun yang natalnya suram tiba tiba berubah menjadi ceria dan penuh petualangan sejak kedatangan paman Albert kesayangannya yang memberinya boneka Nutcracker yang memikat.

Pada malam natal teman baru Mary,The Nutcracker menjadi hidup dan membawanya kedalam sebuah perjalanan yang menakjubkan kedalam dunia peri yang ajaib,sugarplum dan banyak mainan natal lainnya menjadi hidup disana.Dengan cepat Mary menyadari kalau kerajaan yang fantastik itu dalam bahaya dari para penguasanya yan tiran,raja tikus yang jahat dan ibunya yang licik. Saat Nutcracker disandera Mary dan teman barunya para mainan harus membuka rahasia raja tikus untuk menyelamatkan Nutcracker dan kerajaan.
Quotes
Semua itu hanya relatif, tergantung cara kita memandangnya
Jika kita berfikir positif, sebenarnya hidup itu indah.

Review
The nut cracker, sebuah film yang mengingatkan gue sama film Barbie yang gue tonton di tv dulu. Alur ceritanya persis, jadi ekspetasi gue terhadap film ini ga begitu tinggi. Yang membedakan hanyalah kalo versi barbie itu animasi, dan versi ini adalah versi orangnya.

Tapi tanpa menunggu banyak waktu, film ini membuat gue terhanyut. Gatau gue yang kekanak-kanakan dengan alunan dongeng mereka atau memang film ini yang berhasil memikat gue.

Apalagi unsur musikal yang cukup gue suka. Lirik lagu yang begitu earcatching dan pas buat anak-anak. Bahkan gue aja yang berumur 17 tahun masih enjoy enjoy aja pas ngeliat mereka nyanyi sana-sini.

Tanpa banyak cincong, film ini gue rekomendasikan jika kalian ingin menonton something yang fresh atau sekedar ingin mendengarkan dongeng-dongeng dimasa kalian kecil dulu.

Score
8/10
Ada kesalahan di dalam gadget ini